Semarang, 8 Mei 2026 — Departemen Politik dan Ilmu Pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Diponegoro menyelenggarakan kuliah umum bertajuk “Masa Depan Tionghoa dalam Politik Indonesia: Diaspora, SDM, dan Geopolitik” yang bertempat di Ruang Teater FISIP Undip. Kegiatan ini hadir sebagai ruang analisis kritis untuk membedah posisi komunitas Tionghoa dalam struktur sosial, ekonomi, dan politik Indonesia, sekaligus memahami konsep diaspora dalam perspektif ilmu sosial-politik. Diskusi ini menjadi relevan mengingat jejak historis panjang diaspora Tionghoa yang telah menjadi bagian integral dari konstruksi bangsa sejak berabad-abad lalu melalui jalur perdagangan maritim.
Acara dibuka dengan sambutan dari Kepala Departemen Politik dan Ilmu Pemerintahan Dr. Nur Hidayat Sardini, S.IP., S.H., M.Si. Dalam sambutannya, beliau menekankan bahwa persoalan etnisitas dalam politik Indonesia bukan sekadar urusan statistik, melainkan terkait erat dengan politik identitas dan historisitas relasi negara dengan warganya. Beliau menggarisbawahi pentingnya mengelola potensi besar sumber daya manusia dari komunitas Tionghoa agar tetap inklusif guna menghindari sentimen sosial-politik. Menurutnya, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk mengembangkan perspektif berbasis bukti dalam melihat isu kewarganegaraan agar keberagaman dapat diintegrasikan sebagai kekuatan nasional.
Sesi utama yang dimoderatori oleh Yoga Putra Prameswari, S.I.P., M.A., menghadirkan Munawir Aziz, M.A., M.PP, Tim Ahli Bidang Ekosistem Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi sebagai narasumber tunggal. Dalam pemaparannya, Munawir Aziz menyoroti transformasi partisipasi politik Tionghoa pasca-Reformasi 1998 yang kini lebih terbuka meskipun masih dibayangi residu diskriminasi historis. Ia menekankan bahwa masa depan politik komunitas ini tidak hanya dipengaruhi oleh dinamika domestik, tetapi juga sangat bersinggungan dengan dimensi geopolitik global.
Lebih lanjut, Munawir membedah bagaimana kebangkitan ekonomi dan politik Tiongkok sebagai kekuatan global turut membentuk persepsi terhadap diaspora Tionghoa di Indonesia. Relasi strategis Indonesia-Tiongkok dalam bidang investasi dan perdagangan sering kali menciptakan dilema antara nasionalisme dan globalisasi yang beririsan dengan isu identitas. Melalui kuliah umum ini, mahasiswa diajak untuk mengkaji dampak geopolitik tersebut terhadap dinamika politik etnis domestik guna merumuskan arah politik yang lebih inklusif dan beradab.
Kuliah umum yang dihadiri oleh lebih dari 100 mahasiswa Ilmu Pemerintahan ini menegaskan bahwa integrasi komunitas Tionghoa merupakan elemen penting dalam menjaga ketahanan nasional. Dengan memahami tantangan dan kekuatan yang ada, diharapkan muncul kesadaran kolektif untuk memperkuat demokrasi substantif yang melampaui sekat-sekat etnisitas demi masa depan Indonesia yang lebih solid di tengah perubahan lanskap global.






0 Komentar